TIADA BATAS WAKTU DAN USIA UNTUK BELAJAR

Kamis, 28 Februari 2013

Model-model Pembelajaran Bahasa Inggris

     Pengajaran yang efektif tergantung dari pemahaman mengenai arti mengajar, kebutuhan guru, perencanan pengajaran dan materi ajar yang baik, termasuk monitoring belajar dan mengajar. Sebuah pengajaran yang efektif dapat menjawab beberapa pertanyaan berikut: 
a. Bagaimana kualitas pengajaran dapat diperoleh dan dipertahankan dalam sebuah program pengajaran 

b. Menguji faktor-faktor yang terlibat dalam penciptaan kondisi untuk sebuah pengajaran yang dilakukan 

c. Kualitas pengajaran diperoleh bukan hanya seberapa bagusnya seorang guru tetapi bagaimana seorang guru dapat m enciptakan konteks dan menggunakan lingkungan sebagai fasilitas belajar. 
     
    Secara mendasar, pengajaran yang efektif dipengaruhi oleh kemampuan guru menyampaikan materi kepada siswa. Setelah guru memahami materi apa yang akan diajarkan kepada siswa (content knowledge), langkah selanjutnya adalah bagaimana materi tersebut diajarkan kepada siswa. Tentunya penguasaan guru terhadap pendekatan, metode atau teknik pengajaran (practical knowledge) yang dipakai harus baik juga. Pada era sekarang pendekatan pengajaran yang dipakai adalah fokus kepada kemampuan berkomunikasi bukan lagi pada tataran grammar. Tahun 1970 an disebut sebagai era dimana orang ‘going communicative’. Pengajaran bahasa bergerak dari grammar focus kepada bagaimana bahasa digunakan dalam berbagai konteks komunikasi. 


Communicative Approach 
     Pada pendekatan komunikatif, fokus pengajaran adalah autentik komunikasi, dilakukan secara berpasangan dan aktifitas grup yang melibatkan proses diskusi dan berbagi informasi. Kelancaran berkomunikasi menjadi prioritas. Pendekatan Communicative      

Language Teaching memiliki empat asumsi mengenai bahasa, yaitu: 
1) Bahasa adalah sistem untuk mengekspresikan makna/maksud 
2) Fungsi utama bahasa adalah untuk interaksi dan komunikasi 
3) Struktur bahasa merefleksikan kegunaannya pada fungsi dan komunikasi 
4) Unit utama bahasa adalah tidak hanya pada fitur grammar atau struktur melainkan pada fungsi dan makna yang komunikatif. Keempat asumsi dasar mengenai bahasa di atas mengisaratkan aspek bahasa apa yang seharusnya diajarkan, bagaimana bahasa diajarkan didalam kelas dan bagaimana kompetensi bahasa dievaluasi. 

     Berikut adalah prinsip-prinsip pengajaran bahasa menggunakan CLT dari Larsen-Freeeman (1986:128-130) 
1)  Pengajaran bahasa harus dilakukan berdasarkan konteks.

2)  Bahasa sasaran merupakan alat komunikasi dalam kegiatan kelas bukan sebagai objek  belajar 

3)  Siswa harus menggunakan bahasa menggunakan discourse 

4)  Games cocok digunakan untuk membentuk kegiatan komunikasi lebih nyata 

5)  Siswa diberi kesempatan untuk mengekspresikan ide atau pendapatnya 

6)  Salah satu tanggung jawab utama guru adalah menciptakan suasana atau situasi yang menekankan pada kegiatan komunikasi 

7)  Konteks sosial dari kegiatan komunikasi penting diberikan untuk mengartikan ujaran 8) Mempelajari menggunakan bentuk bahasa secara tepat merupakan bagian penting dari kompetensi komunikatif. 

9)  Guru bertindak sebagai penasihat selama aktivitas komunikasi 

10) Siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan strategi untuk menginterpretasi bahasa seperti yang biasa dilakukan oleh native speaker. 

Genre based approach          
Pendekatan berbasis genre dalam pengajaran berfokus pada pemahaman dan produksi jenis teks baik tulis dan lisan. Pendekatan ini berkenaan dengan knowledge of the topic, style of genre dan context. Genre-Based Approach memperkenalkan proses belajar mengajar dengan melibatkan tiga tahapan pengajaran berdasarkan pedagogical literacy strategy dari John, Ann M. (2002), yaitu Modelling, Joint Negotiation of Text, Independent Construction of Text. Sebagai contoh penulis memberikan contoh penggunaan genre based approach dalam pengajaran menulis teks recount berdasarkan pedagogical literacy strategy, sebagai berikut: 

1) Introduce and arouse the students’ perception towards the recount text—the generic structure, function, and linguistic feautures. (building knowledge of the field—recount text) 

2) Give them model of the recount text, and have them to analyze the text based on the generic structure, social function, and lexicogrammatical. (modelling of the text) 

3) Let them join together and have them the product of recount text in the form of discussion, guided by the teacher. The teacher may use cooperative learning method to make them cooperate and produce the best product and discussion and inquiry technique that insist students to find their own ideas.(joint construction) 

4) Give them chance to make their own product. They may find ideas themselves, orginizing ideas and generating ideas with good steps of writing process--constructing ideas, drafting, conferencing, editing, and publishing. (independent construction). 
Berikut beberapa metode dan teknik yang bisa digunakan dalam pengajaran yang memiliki prinsip-prinsip comunicative language teaching maupun natural approach. 

Contextual Teaching Learning 
     Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistic dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2003: 10), 

Tujuh komponen CTL adalah sebagai berikut: 
a. Construktivism 
Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal. Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. 

b. Inquiry 
Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis. 

c. Questioning 
Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry. 

d. Learning Community 
Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar dan bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri. Siswa saling tukar pengalaman dan berbagi ide. 

e. Modeling 
Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar. Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya. 

f. Reflection 
Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa, adanya penilaian produk (kinerja), adanya tugas-tugas yang relevan dan kontekstual. 

g. Authentic Assessment 
Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari, mencatat apa yang telah dipelajari, membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok. 

Pembelajaran Kreatif Produktif
     Model pembelajaran kreatif produktif menuntut mahasiswa dapat menghasilkan sesuatu yang kreatif sebagai re-kreasi atau pencerminan pemahamannya terhadap masalah/topik yang sedang dikaji. Menurut Depdiknas (2007 : 112), “Model pembelajaran kreatif produktif merupakan model yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Pendekatan tersebut antara lain : Belajar aktif, kreatif, konstruktif, serta kolaboratif dan kooperatif.” Pada dasarnya, kegiatan pembelajaran dibagi menjadi empat langkah, yaitu: orientasi, eksplorasi, interpretasi, dan rekreasi. Berikut langkah-langkah tersebut: 
1) Orientasi 
Kegiatan orientasi ini dilakukan untuk mengkomunikasikan dan menyepakati tugas dan langkah pembelajaran. Dosen mengkomunikasikan tujuan, materi, waktu, langkah, hasil akhir yang diharapkan dari mahasiswa serta penilaian yang akan diterapkan. 

2) Eksplorasi 
Siswa melakukan eksplorasi terhadap masalah/konsep yang akan dikaji. Eksplorasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, melakukan observasi, wawancara, menonton satu pertunjukan, melakukan percobaan, browsing lewat internet, dan sebagainya, yang bisa dilakukan baik secara individual maupun kelompok. 

3) Interpretasi 
Hasil eksplorasi diinterpretasikan melalui kegiatan analisis dan diskusi, dan tanya jawab. 

4) Re-kreasi 
Siswa ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu yang mencerminkan pemahamannya terhadap konsep/topik/masalah yang dikaji menurut kreasinya masing-masing. (Depdiknas, 2007 : 114) 

A Guided Reading with The Very Hungry Caterpillar, by Eric Carle (1969).  

Before Reading : 

1) Choose Books: 
Find multiple copies of a children’s book appropriate for the group. Ask your school or public librarian for help in choosing and finding copies, or use “little books” or a selection from a literature-based reading series For example, you could use Eric Carle’s The Very Hungry Caterpillar from the first-grade level of Houghton Miflin’s series Invitations to Literacy (1997). It is a wonderfully illustrated story about a caterpillar who eats a different food each day of the week, gets a stomach ache, and the turns into a cocoon and finally a butterfly. This book uses the predictable patterns of numbers and days of the week and vocabulary about food and the life cycle of a butterfly. 

2) Introduce the Book: 
Show the cover or an illustration, and read the title and the author. 

3) Make Predictions: 
Ask students, “What do you think the story is about ? Why? 

4) Activate Prior Knowledge: 
Ask students, “What do you know about caterpillars? What do you know about the author, Eric Carle? What else do yo know that you want to share?” 

5) “Word Wall”: 
Write down the children’s predictions, prior knowledge, and ideas on a word wall. Keep this simple. Use a small dryerase board, chalkboard, or paper on a clipboard, since you will be working with a small group. Put the children’s initials next to their comments to build self-esteem, encourage ownership, and remember who said them! 

During Reading :
1) Observe Reading: 
Direct children to read the first two pages of the book silently, observing them and providing support by responding to any questions they have about the story or words in it. Tell students to look up when they have finished reading. 

2) Verify Prediction and Make New Ones: 
Ask students to verify the predictions they made (which you may have noted on the word wall), and make further predictions about what will happen in the story. Ask “ What do you think will happen next? Why do you think so?” 

3) Continue Reading and Predicting: 
Continue to read the story as follows: 
a. Direct children to continue reading the next two pages, including the partial pages that tell about the days of the week and the food the caterpillar ate each day, and see what happens. Tells students to look up when they have finished reading. 

b. Again ask students to verify their predictions and make new ones (e.g., “What might the caterpillar do about his stomach ache?). After each prediction, ask “Why do you think so?” 

c. Direct children to read the next three pages, which tell how the caterpillar ate a green leaf and felt better, was now a “big, fat caterpillar,” and made himself cocoon. Tell students to look up when they have finished reading. 

d. Again ask students to verify their predictions and make a new one: Ask” What do you think will happen when the caterpillar pushes his way out of the cocoon?” Also ask “Why do you think so?”Then read the last page to find out: “He was a beautiful butterfly!” 

After Reading :
1)Discuss the Story: 
Ask children to talk about their predictions, verifications, ideas, questions, and personal responses or connections with their own lives. 

2) Reread: 
Encourage children to read section aloud that confirm or disconfirm their predictions or that interested them. Talk about predictions or that interested them. Talk about predictions that cannot be verified directly by the text but can be inferred. Discuss any differencesamong ideas the children may have. 

3) Teach Minilessons : 
Focus on appropriate skills or strategies related to this story. For example: Have students read the last page in the story, and ask how they knew the word butterfly (i.e., by using the illustration as a context clue). Ask students to identify the unit (rime) in all the words for the days of the week (-ay), and make a list of other words with this rime. Make a list of all vocabulary words for food, and ask volunteers to read them (apple, pears, plums, strawberries, oranges, chocolate cake, ice cream cone, pickle, Swiss cheese, salami, lollipop, cherry pie, sausage, cupcake, watermelon, and leaf-caterpillar food). These words can also be put on cards and sorted by type of food, number of syllables, compound words , and so on. 

Productive discussion 
     Diskusi seharusnya dapat menjadi fasilitas bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih lengkap daripada sekedar belajar secara individual. Teknik diskusi bisa digunakan ketika pada proses pengajaran siswa tidak lagi begitu memperhatikan materi dengan baik. Dengan diskusi mereka bisa mendapatkan kembali semangat belajarnya karena setiap individu harus merasa terlibat secara langsung untuk menyelesaikan tugas kelompoknya. 
     Berikut tahapan-tahapan dalam melaksanakan teknik diskusi: 
1) Siswa berpikir mengenai topik dan membuat catatan mengenai ide awal.
2) Siswa membentuk kelompok dan bertukar pikiran satu dengan lainnya 
3) Setelah diskusi kelompok, dilanjutkan dengan diskusi kelas dengan beberapa siswa menjadi pembicara 
4) Guru memberikan saran atau pandangannya yang baru dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa 
5) Seluruh siswa berpikir kembali mengenai topik dan menulis laporan sebagai hasil akhir. 

Beberapa hal bisa dilakukan agar diskusi bisa lebih baik, diantaranya: 
a.  Sediakan daftar topik yang provokatif atau isu yang aktual 
b. Tunjuk seorang siswa sebagai pemimpin diskusi 
c. Gunakan visual aids 
d. Tunjuk notulen yang akan mencatat setiap informasi 
e. Tentukan beberapa siswa sebagai pembicara untuk setiap group 
f.  Maksimalkan kontak mata 
g. Gunakan posisi duduk yang bisa satu sama lain saling berhadapan h.Lakukan dengan grup kecil (Harmin, Merril and Melanie Toth: tanpa tahun) 

Brainstorming 
     Brainstorming merupakan strategi curah pendapat dalam suatu diskusi yang mencakup saling berbagi pengalaman, ide, maupun gagasan. Menurut Jones, Russel (2004:4), brainstorming telah diperluas untuk mencakup cara-cara yang lebih terstruktur menghasilkan ide-ide seperti peta pikiran dan teknik visual lainnya. Teknik ini digunakan agar siswa beripikir tentang isu secara terbuka dan komprehesif. Teknik ini akan membantu siswa yang terkadang kurang begitu peduli dengan masalah-masalah yang ada dalam kehidupannya sendiri menjad terbasa untuk berpikir dengan hati-hati mengenai permasalah mereka termasuk permasalah dalam belajar mereka. 
     Terdapat beberapa langkah dalam menggunakan strategi brainstorming sebagai berikut: 
1) Perkenalkan brainstorming di kelas. 
2) Perkenalkan topik atau masalah dengan jelas. 
3) Berikan siswa batas waktu untuk memecahkan sebuah masalah. 
4) Berikan kesempatan siswa mereka untuk berbagi ide, seaneh apapun itu tergantung terhadap masalahnya dan ingatkan mereka supaya tidak saling mengkritik ide satu sama lain dengan cara apapun. Kemudian mendorong mereka untuk membangun ide masing-masing serta jangan terpaku terlalu lama terhadap satu ide. 
5) Berikan kesempatan kepada siswa untuk brainstorm baik secara individu maupun berpasangan. 

Story Mapping 
Story mapping merupakan teknik yang melatih siswa memahami struktur sebuah cerita narrative. Graphic organizer dapat menolong siswa memahami elemen sebuah cerita dengan mengidentifikasi karakter, plot, setting, konflik, solusi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara cerita dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu permulaan (beginning), inti (middle), dan akhir (end) sebuah cerita. 

Freewriting 
Freewriting seperti halnya namanya merupakan teknik yang membantu siswa secara sederhana untuk mulai menulis dan membiarkan ide mereka mengalir dari pikiran mereka tanpa terhalang/terganggu dengan aturan-aturan mekanik dan revisi. Dengan teknik ini siswa dapat menulis apa yang diinginkan, melahirkan ide-ide dan mengembangkan kefasihan menulis. 

Freewriting dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa tahapan, sebagai berikut: 
1) Pilihlah sebuah topik 
2) Tulislah dalam 5 sampai 10 menit tanpa berhenti berpikir, membaca kembali, dan membuat koreksi 
3) Tulislah “ I don’t know what to write about” atau prase yang sama sampai didapatkan ide berikutnya 
4) Setelah waktu berakhir, baca kembali tulisan dan lingkari ide yang masih bisa dikembangkan 
5) Kemudian, lanjutkan penulisan dalam waktu 5 sampai 10 menit, dan begitu seterusnya. (Hoskisson, Tompkins, 1991:210)

Materi PLPG 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar